ini bukan soal “tidak berbakti” atau melawan keluarga—ini soal menentukan arah hidupmu sendiri dengan cara yang tetap hormat.
“Dalam sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tertulis jelas bahwa setiap insan memiliki hubungan dengan Tuhannya—dan dilindungi dalam kehidupan bernegara.
Namun dalam hidup, terkadang kita dipaksa untuk ‘kenyang’,
padahal kita tidak lapar pada apa yang disajikan.
Bapak dan mama selalu mendukung,
namun ada kalanya harapan keluarga menjadi arah yang sulit ditolak.
Di sisi lain, seorang anak juga punya prinsip,
punya mimpi yang ingin ia perjuangkan.
Aku ingin kuliah dengan jurusan yang kupilih,
bukan sekadar menerima pilihan yang dipaksakan.
Apakah jalan ini tak bisa diubah lagi?
Ya Allah, kepada takdir dan waktu aku bertanya—
akankah hidupku selalu berjalan dalam aturan orang lain?
Ataukah Engkau juga memberi ruang
untukku melangkah pada jalan yang kupilih sendiri?
Perawat… atau tetap mengejar mimpi
di dunia seni dan infrastruktur Islam,
menjadi seorang akademisi…
Aku belajar ikhlas,
dan aku memilih untuk tetap percaya—
bahwa setiap jalan yang diperjuangkan dengan doa
akan menemukan takdir terbaiknya.”

Komentar
Posting Komentar